Advertisement

Latest News

Tampilkan postingan dengan label Dzikir. Tampilkan semua postingan



Berzikir adalah mengingat dan menyebut Nama Allah SWT. serta mengucapkan kalimat pujian kepada Allah SWT secara berulang-ulang. Tujuan berzikir adalah agar hati menjadi dekat kepada Allah SWT dan tetap kuat dalam keimanan. Berzikir dilakukan setiap saat sekalipun hanya sedikit, diutamakan sebanyak-banyaknya dan terus menerus. Allah SWT memerintahkan berzikir, antara lain:
1. "Ingatlah (berzikirlah) kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu."
2. "Berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya."

Rasulullah saw mengemukakan beberapa fadilah berzikir, diantaranya:
1. Allah SWT terlah berfirman, "Aku menurut dugaan Hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersama hamba apabila ia mengingat Aku. Jika ia mengingat Aku pada dirinya, niscaya Aku mengingatnya pula pada diri-Ku. Jika ia mengingat Aku dalam satu kelompok, niscaya Aku mengingatnya pada kelompok yang lebih baik daripada kelompok mereka. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatinya satu depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari."
2. Orang yang berzikir mendapatkan Rahmat dan ampunan Allah SWT
3. Allah SWT menyebut nama orang yang berzikir kepada para malaikat yang berada di sisi-Nya
4. Orang yang berzikir mendapatkan perlindungan Allah SWT pada hari kiamat
5. Berzikir kepada Allah SWT lebih utama daripada berjihad fisabilillah dan memberikan harta yang banyak terus menerus
6. Orang yang berzikir mendapatkan ketenangan hidup
7. Orang yang berzikir diibaratkan orang yang hidup dengan rohaninya, dan orang yang tidak berzikir diumpamakan orang yang mati.
http://saung-abata.blogspot.com/2013/12/adab-berdoa-dan-berzikir.html

a. Adab Berdoa
    Setiap orang yang memohon kepada Allah SWT harus memperhatikan etika dan sopan santun dalam berdoa, antara lain:
    1. memohon hanya kepada Allah SWT
    2. Memohon pada keadaan yang mulia, seperti; saat bersujud kepada Allah SWT setelah shalat fardhu, waktu sahur, saat turun hujan dan ketika berpuasa
    3. Memohon pada saat yang baik dan tepat, seperti; rentang waktu antara azan dan iqamah, sepertiga malam, hari jumat, bulan Ramadhan, hari arafah, awal dan akhir tahun
    4. Menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tangan
    5. Meyakini permohonan akan terkabul
    6. Merendahkan diri, khusyuk, dan takut akan murka Allah SWT
    7. Melembutkan suara, karena berdoa ditujukan kepada Yang Maha Mendengar, serta tidak memaksakan diri untuk melagukan doa
    8. Memulai permohonan atau permintaan dengan menyebut salah satu Asmaul Husna, kalimat tauhid, hamdalah, serta bersalawat atas Rasulullah saw; tidak langsung mengungkapkan maksud yang dituju
    9. Tidak memohon keburukan bagi diri sendiri ataupun orang lain, memutuskan hubungan silahturahmi, dan yang diharamkan atau dimakruhkan agama, seperti; memohon kematian karena ditimpa musibah, memohon menimpakan azab dengan segera didunia dan lain-lain
    10. Menyatakan permohonan dengan baik dan jelas
    11. Mengulangi permohonan sampai tiga kali dan diutamakan
    12. Bertobat kepada Allah SWT atas kesalahan yang pernah diperbuat
    13. Menutup permohonan dengan bertahmid dan bersalawat atas nabi saw lalu mengusapkan kedua tangan ke wajah

b. Adab Berzikir
    Etika dan sopan santun bagi orang yang berzikir kepada Allah SWT antara lain:
    1. Merendahkan diri, tidak boleh takabur
    2. Mengkhusyukan hati dan tidak lengah atau lalai
    3. Meniatkan untuk menambah keimanan
    4. Memohon ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan
    5. Tidak mengeraskan suara


Sesungguhnya Dzikir ini dapat dilakukan kapan saja, baik pagi, siang, sore maupun malam. Firman Allah SWT. "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, ialah orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi." (QS. Ali Imran: 190-191)

Walaupun dzikir bisa dilakukan pada setiap waktu, namun ada waktu-waktu tertentu yang sangat utama untuk berdzikir.
  1. Pagi hari sebelum terbit matahari, usai shalat subuh dan pada sore hari setelah shalat ashar, sebelum matahari terbenam.
  2. Setelah matahari tergelincir, usai shalat dzuhur
  3. Setelah menunaikan shalat-shalat wajib
  4. Pada waktu sepertiga malam yang terakhir
Ada juga pada waktu-waktu tertentu yang didalamnya kita diamkruhkan berdzikir, yakni ketika kita sedang buang air, jima' (sedang intim), sewaktu mendengarkan shalat Jum'at dan khutbah dua Hari Raya, serta ketika mengantuk.

Sebaiknya dzikir itu dilakukan di tempat-tempat yang bersih, suci, dan tenang seperti di masjid atau mushollah. Meski demikian, dzikir bisa dilakukan di sekolah, di kantor, di tempat wisata. Bahkan ketika menunggu bus di halte atau menunggu kereta di stasiun, menanti pesawat di bandara, dan duduk-duduk di pelabuhan kita bisa berdzikir. Demikian pula sewaktu dalam perjalanan, baik sewaktu berjalan kaki maupun sedang naik kendaraan, kita bisa berdzikir. Kecuali di tempat-tempat najis seperti di kamar mandi, dan kamar kecil kita di larang berdzikir.

Seyogyanya dzikir kita lakukan dalam keadaan bersih dan suci, baik badan (khususnya lisan), pakaian dan tempat. Akan tetapi bagi orang yang berhadas (sedang junub, haid/menstruasi dan nifas - keluar darah setelah melahirkan), menurut ijma ulama, boleh saja berdzikir dengan lisan dan hati. Namun dilarang membaca Al Quran, sebab hukumnya haram.

Apabila kita berdzikir baik itu membaca tahmid, tahlil, tasbih, takbir maupun shalawat akan lebih utama jika menghitungnya dengan ruas-ruas jemari tangan. Sebab, sabda Rasulullah saw. "Hendaklah engkau membaca tasbih, tahlil dan taqdis. Janganlah kamu melalaikannya. Jika kamu lalai, lalilah Tuhan memberi rahmat kepadamu. Dan hitung bacaanmu itu dengan anak-anak jari, karena anak-anak jari itu akan bertanggung jawab tentang perbuatannya." (HR. Ahmad dan Abu Daud). Sedangkan kalau kita menghitungnya pakai tasbih, maka memutar tasbihnya harus dengan tangan kanan. Ibnu Umar ra. mengungkapkan: "Saya melihat Rasulullah menyimpulkan tasbihnya dengan tangan kanan."

Apabila dzikir yang kita lakukan benar-benar diniatkan karena ingin memperoleh ridha Allah SWT, maka akan membawa beberapa faedah bagi kita antara lain:
  1. Hubungan dengan Allah SWT semakin dekat. Dengan demikian doa dan segala sesuatu yang kita hajatkan, kemungkinan besar akan segera dikabulkan oleh-Nya
  2. Memperkookoh keimanan kita kepada Allah SWT
  3. Meredam gejolak hawa nafsu
  4. Menghindarkan diri dari gangguan setan
  5. Menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan
  6. Dijauhkan dari segala musibah


KATA DZIKIR berasal dari bahasa arab, dzikr yang berarti mengingat dan mengucap atau menyebut. Apabila dikaitkan dengan Islam, berarti mengingat dan menyebut Asma Allah SWT. Dzikir merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Firman Allah SWT. "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (Q.S.Al-Ahzab; 41-42). "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dengan tadhorru (merendahkan diri dan rasa takut) dan dengan tidak mengeraskan suara pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Q.S. AL-'Aroof; 205). Abu Hurairah ra. memaparkan, Rasulullah saw. bersabda; "Tiada satu kaum pun yang duduk-duduk sambil berdzikir kepada Allah, melainkan para malaikat datang mengelilingi dan menaungi mereka." (H.R. Abu Sa'id Al-Khudri)

Dzikir menurut para ulama, dapat dibedakan dalam tiga macam;
  1. Dzikir dengan lisan (dzikr bil al-lisan), yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir, tahmid, dan tahlil dengan bersuara.
  2. Dzikir dalam hati (dzikr bi al-qolb), yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir, tahmid, dan tahlil dengan membatin, tanpa mengeluarkan suara. Sebagian ulama menafsirkan dzikir dalam hati ini, adalah bertafakkur merenungi kemahabenaran Allah SWT dengan penuh keyakinan dan perasaan tulus.
  3. Dzikir dengan panca indera atau anggota badan (dzikr bi al-jawarih), yakni menundukkan seluruh anggota badan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Tentang Dzikir dengan panca indera ini, sebagian ulama tasawuf memiliki pengertian dan konsep yang berbeda, yakni melalui tujuh penjuru panca indera.
  1. Dzikir kedua mata dengan menangis
  2. Dzikir kedua telingan dengan mendengarkan hal-hal yang baik
  3. Dzikir lidah dan mulut dengan mengucapkan pujian-pujian
  4. Dzikir hati dengan penuh rasa takut dan harap kepada Allah SWT
  5. Dzikir ruh dengan menyerah kepada Tuhan dan rela atas segala keputusan-Nya
  6. Dzikir badan dengan memenuhi berbagai kewajiban
  7. Dzikir kedua tangan dengan bersedekah.
Advertisement